Dentum yang
terlantun
Menggila dalam
wujud enbun
Hingga oase pada
gurun
Berpaling jadi
penuntun
Kutepis kumandang
kalbu
Tetap iramanya
terngiyang di telingaku
Pun bila aku bisu
Mana bisa aku tahu
Rembulan adalah
milikku
Aroma ini tetap
punyaku
Sepanjang usia
bila ku harus berlagu
Meka hikayat ini
tetap milikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar