Flag Counter

Kamis, 29 Desember 2016

The little puzzle on 11December 2016 about our togetherness.




            I don’t want tell you many thing what kind happen we have did. Because I believe that my friends have done tell about it. I think, this written is just little review above.
We have planned for so long day to go to Mojokerto to visit some destination history. For example Sleeping Buddha, Museum Majapahit, some places over there. But, that day we just can visited Sleeping Buddha because limited time and in Sleeping Buddha  we still have some agenda and this is not for holiday, but this is most felt like studying in outdoor, because we have to presentation what we saw some view in Sleeping Buddha.
And do not unforgettable thing what we will do is we have take picture to immortalize that moment. But, the funny step to immortalize it is when we made mannequin challenge on the bus with our lecturers. They are Mr. Nurdin and Mrs. Nail, and certainly with our driver bus to. I don’t know how drivers felt that time. Did he understand what mannequin challenge is? Because he just abbey to my friend said, that he have just motionless like as statue.
Hemz… limited time to enjoy that funny day. We must back again to campus and take matriculation lesson. Hehe… but doesn’t matter. It will be continue in next time, to replace first planning to go to some places in Mojokerto. I mean some places history about Majapahit kingdom.

Rabu, 16 November 2016

Penguntit

Aku masih memainkan lagu
dari kotak musik rindu
yang padu dengan bayangmu
dalam cangkir kopi hangat kalbu

Aku berpuisi dalam hujan biru
memungut puing-puing lalu
lantas menjadikannya tubuhku

Pena yang buatku candu
tetap menari bagai belenggu
terlepas dari itu aku bisu
sebab gelebah berderap pilu

Kau buta akan sajakku
tapi kutetap jadi penguntitmu
dalam denai sendu



Jombang, 16 Nopember '16

Selasa, 15 November 2016

Taksa

                                                                                                
Hiakayat ini tak lagi taksa
sedang engakau menjadi warna
pada enbun yang mulanya jelaga
terseret waktu lalu jadi bianglala

Diam-diam hatiku jadi tinta
pada bulir degup aksara
di tiap helai kenangan yang kubawa
dari pelupuk mata
yang karenanya kaku bahagia

setapakku mungkin tanpa lentera
tapi kalbu tahu apa tujuannya



Minggu, 06 November 2016

degup yang tak santun

Ini cerita degupku yang tak santun
selagi aku masih gerun
dalam sajak getun
lantaran merasa majnun
di hadapan sang penyamun

Ini cerita dari suatu gurun
tiada dijamah seorang pun
sebab sajak ini dari relung
dan ditulis berdasar yang telah di arung
tanpa bisa dilarung


Jumat, 04 November 2016

Bingkai cerita


Kutulis ini di atas kertas
Biar kau dapat baca jelas
Seberapa dalam rasa yang membekas

Cerita ini belum tuntas
Hanya saja terus kukupas
Biar pun jarak jadi batas
Tetap saja kurasa engkau yang pantas

Pemikiran ini belum tentu selaras
Sebab kini kalbumu bingkai sebuah paras

kata milik dari kalbu

                                                               
Dentum yang terlantun
Menggila dalam wujud enbun
Hingga oase pada gurun
Berpaling jadi penuntun

Kutepis kumandang kalbu
Tetap iramanya terngiyang di telingaku
Pun bila aku bisu
Mana bisa aku tahu
Rembulan adalah milikku

Aroma ini tetap punyaku
Sepanjang usia bila ku harus berlagu

Meka hikayat ini tetap milikku.   

Kopi hangat

                                               
Ini hanya sekedar kopi hangat
dari perjalanan lampau yang selalu kuingat
aromanya masih sama kuat
seperti sekat yang berwarna pekat

Ini bukan sesajen di malam jum’at
Melainkan hidangan untuk malaikat
Yang pada pandangnya aku terpikat
Ya…hidangan sederhana yang kuharap nikmat

Tiadakah yang bisa melepasku dari jerat
Sedang puisiku telah lama berkarat
Sejak ia tak lagi berhasrat
Berdiam diri dalam munajat

Ini hanya sekedar kopi hangat
Tapi telah kububuhi racun pemikat
Agar puisiku tak lagi sekarat.


Jombang, 05 Oktober 2016


Rabu, 02 November 2016

Catatan si gila

Fanamu,  harap tak jadi kau fanaku
detakmu,  harap akulah detakmu
esokmu, harap ada aku  di kalbumu
halimunmu,  harap pelitamu adalah aku

Aku kamu, kamu aku
dan serta dengan..
engkau daku!!  Ah... Apa ini?
puisi??  Terserah pemirsa bilang apa.

Ini cerita.  Bukan reka ulang imajinasi
si gila.

Unipdu, 03 Oktober 2016

Selasa, 25 Oktober 2016

(?)

    
Sekiranya ada untuk aku fahami
maka berikanlah alasannya
mengapa sisa air hujan
menggantung di atas reranting
Sekiranya bisa untuk aku terlusuri
maka jawablah
mengapa dedaunan tumbuh
bila harus gugur terbawa musim
Sekiranya bisa matahari untuk
bicara maka akan ku dengar
petuahnya walau lirih hati
bertanya. Mengapa bintang menggantung di angkasa.?
Katakanlah untukku.

Rabu, 19 Oktober 2016

Karang di Rahim Puisi


Sudah kubuang album berayap itu
tapi debunya tetap di pangkuanku
bergeming enggan berpaling

Ombak yang bernyanyi pada bika pantai
pasir yang menari pada sorak rindu
mengantar mega kemabali ke dasar samudera
tiarap dalam rima tirta
dan hari tetap saja gulita


Rumpang


Bak gerimis yang mencipta
Degup sunyi dalam gulita
Tinta nan penulis cerita
Menunggu embun pembawa pelita

Jangan menamakan ini luka
Atau pun kau sebut duka
Resapi sebentar saja
Seumpama kau sedang menghafal kata
Sampai kau temui bianglala

Atau Kristal permata