Aku masih memainkan lagu
dari kotak musik rindu
yang padu dengan bayangmu
dalam cangkir kopi hangat kalbu
Aku berpuisi dalam hujan biru
memungut puing-puing lalu
lantas menjadikannya tubuhku
Pena yang buatku candu
tetap menari bagai belenggu
terlepas dari itu aku bisu
sebab gelebah berderap pilu
Kau buta akan sajakku
tapi kutetap jadi penguntitmu
dalam denai sendu
Jombang, 16 Nopember '16
Rabu, 16 November 2016
Selasa, 15 November 2016
Taksa
Hiakayat ini tak lagi taksa
sedang engakau menjadi warna
pada enbun yang mulanya jelaga
terseret waktu lalu jadi bianglala
Diam-diam hatiku jadi tinta
pada bulir degup aksara
di tiap helai kenangan yang kubawa
dari pelupuk mata
yang karenanya kaku bahagia
setapakku mungkin tanpa lentera
tapi kalbu tahu apa tujuannya
Minggu, 06 November 2016
degup yang tak santun
Ini cerita degupku yang tak santun
selagi aku masih gerun
dalam sajak getun
lantaran merasa majnun
di hadapan sang penyamun
Ini cerita dari suatu gurun
tiada dijamah seorang pun
sebab sajak ini dari relung
dan ditulis berdasar yang telah di arung
tanpa bisa dilarung
selagi aku masih gerun
dalam sajak getun
lantaran merasa majnun
di hadapan sang penyamun
Ini cerita dari suatu gurun
tiada dijamah seorang pun
sebab sajak ini dari relung
dan ditulis berdasar yang telah di arung
tanpa bisa dilarung
Jumat, 04 November 2016
Bingkai cerita
Kutulis ini di atas kertas
Biar kau dapat baca jelas
Seberapa dalam rasa yang membekas
Cerita ini belum tuntas
Hanya saja terus kukupas
Biar pun jarak jadi batas
Tetap saja kurasa engkau yang pantas
Pemikiran ini belum tentu selaras
Sebab kini kalbumu bingkai sebuah paras
kata milik dari kalbu
Dentum yang
terlantun
Menggila dalam
wujud enbun
Hingga oase pada
gurun
Berpaling jadi
penuntun
Kutepis kumandang
kalbu
Tetap iramanya
terngiyang di telingaku
Pun bila aku bisu
Mana bisa aku tahu
Rembulan adalah
milikku
Aroma ini tetap
punyaku
Sepanjang usia
bila ku harus berlagu
Meka hikayat ini
tetap milikku.
Kopi hangat
Ini hanya sekedar kopi hangat
dari perjalanan lampau yang selalu kuingat
aromanya masih sama kuat
seperti sekat yang berwarna pekat
Ini bukan sesajen di malam jum’at
Melainkan hidangan untuk malaikat
Yang pada pandangnya aku terpikat
Ya…hidangan sederhana yang kuharap nikmat
Tiadakah yang bisa melepasku dari jerat
Sedang puisiku telah lama berkarat
Sejak ia tak lagi berhasrat
Berdiam diri dalam munajat
Berdiam diri dalam munajat
Ini hanya sekedar kopi hangat
Tapi telah kububuhi racun pemikat
Agar puisiku tak lagi sekarat.
Jombang, 05 Oktober 2016
Rabu, 02 November 2016
Catatan si gila
Fanamu, harap tak jadi kau fanaku
detakmu, harap akulah detakmu
esokmu, harap ada aku di kalbumu
halimunmu, harap pelitamu adalah aku
Aku kamu, kamu aku
dan serta dengan..
engkau daku!! Ah... Apa ini?
puisi?? Terserah pemirsa bilang apa.
Ini cerita. Bukan reka ulang imajinasi
si gila.
Unipdu, 03 Oktober 2016
detakmu, harap akulah detakmu
esokmu, harap ada aku di kalbumu
halimunmu, harap pelitamu adalah aku
Aku kamu, kamu aku
dan serta dengan..
engkau daku!! Ah... Apa ini?
puisi?? Terserah pemirsa bilang apa.
Ini cerita. Bukan reka ulang imajinasi
si gila.
Unipdu, 03 Oktober 2016
Langganan:
Komentar (Atom)